Kamis, 17 November 2011

ISTIGHFAR SUATU RANGKA IMAN

     Untuk mengetahui kedudukan istighfar (memohon ampun dari dosa) dalam rangkaian pembinaan Iman dan Islam, baiklah kita perhatikan ayat Tuhan yang dibawah ini :

   "disediakan bagi orang orang yang taqwa di sisi Tuhan, beberapa syurga yang mengalir di bawahnya beberapa sungai, sedang mereka kekal di dalamnya. Dan (disediakan juga) pasangan pasangan hidup (jodoh jodoh) yang suci bersih, dan (disediakan juga) kerelaan Tuhan. Dan Tuhan, maha memperhatikan hamba hambanya itu (yaitu) orang orang yang berkata (memohon) : Wahai Tuhan kami, sesunguhnya kami telah beriman, maka ampunilah kiranya dosa kami, serta jauhkanlah dari kami siksa neraka, (yaitu) orang yang senantiasa sabar, orang yang senantiasa berlaku benar, senantiasa menyembah Tuhan dengan hati nan khusyu", senantiasa bernafqah, dan senantiasa memohon ampun di waktu sahur dari segala dosanya." (Q.A. 15-17 S. 3: Ali ImranD).

     Ayat ini tegas benar menyatakan sifat sifat orang yang taqwa kepada Allah, Tuhan seru sekalian alam. Mereka senantiasa mempergunakan waktu sahur untuk memohon kepada Allah semoga dosa dosanya diampuni Allah. Maka dengan ayat ini nyatalah bahwa ber-istighfar (memohon ampun dari segala dosa), termasuk salah satu rangka dari rangkaian Iman dan Islam, yang wajib ditegakkan oleh seluruh umat. Memang   Tuhan telah memerintahkan supaya para hamba bersistighfar. Diantara perintahNya yang tersebut dalam ayat ayat berikut ini:

"Dan memohon ampun kepada Allah, sesungguhnya Allah maha pengampun lagi maha penyayang". (Q.A 20 S. 73: Al Muzammil).

"Maka bertasbihlah kamu dengan memuji Tuhanmu, serta memohon ampunlah kamu kepadaNYa, sesungguhnya Dia maha menerima taubat". (Q.A 3 S 110: An Nasher).

    Kedua ayat tersebut, menegaskan bahwa diantara tugas yang diperintahkan kepada umat untuk melaksanakannya dengan sempurna dan sebaik baiknya, ialah tugas "beristighfar" (memohon ampun kepada Allah dari segala dosa).

      Sebenarnya memohon ampun itu adalah suatu hal yang tiada perlu kiranya untuk diperintahkan, karena tiap tiap orang yang berdosa, dengan sendirinya, harus merasa perlu untuk beristighfar itu. Akan tetapi boleh jadi oleh karena segahagian manusia mungkin sangsi tentang boleh atau tidaknya beristighfar itu, maka untuk menghilangkan kesangsian itu, Tuhan memerintahkannya dengan tegas sekali. Karena itu berbahagialah kiranya orang yang dapat mempergunakan kesempatan ini sebaik baiknya.

sumber : pedoman dzikir dan doa